Permulaan Kaum Baptis di Eropa (1)

Permulaan Kaum Baptis di Eropa (1)
oleh: Dwi Ariefin
Ringkasan

Kemunculan pergerakan Baptis pada awal abad ke-17 di Eropa merupakan buah dari kerinduan memulihkan kebenaran Perjanjian Baru. Berawal dari pergumulan kelompok Separatis di Inggris yang menghadapi tekanan gereja negara, para perintis seperti John Smyth dan Thomas Helwys memperjuangkan pemurnian ibadah serta kebebasan hati nurani di hadapan TUHAN.

Ilustrasi Sejarah Baptis di Eropa Ilustrasi Sejarah Eropa

Para ahli sejarah pada umumnya sepakat bahwa pergerakan kaum Baptis mulai tampak secara jelas di Inggris pada awal abad ketujuh belas, tepatnya sekitar tahun 1600-an. Sebelum tahun 1610, catatan sejarah kaum Baptis diperoleh dari dokumen-dokumen terbatas. Namun sesudah tahun 1610, bukti tertulis makin terang menunjukkan kehadiran sekelompok orang percaya yang memegang keyakinan Alkitabiah secara konsisten.

Penggunaan kata "timbul" dipandang lebih tepat ketimbang "mulai ada" untuk menguraikan sejarah awal ini. Sepanjang abad, orang percaya yang berpegang pada prinsip Perjanjian Baru senantiasa ada. Mereka sering kali terpaksa beribadah secara diam-diam karena tekanan zaman. Oleh sebab itu, kemunculan kaum Baptis di Inggris pada abad ke-17 hendaknya tidak dipandang sebagai pergerakan yang sama sekali baru, melainkan sebagai timbulnya kembali ajaran Perjanjian Baru yang telah lama dipelihara oleh Roh Kudus di dalam hati orang-orang percaya.

Sebutan "Baptis" sendiri baru mulai digunakan secara umum sekitar tahun 1644. Mula-mula istilah tersebut diberikan oleh pihak luar yang menentang keberadaan mereka. Orang Baptis kala itu lebih menyukai sebutan "Orang-orang percaya yang dibaptiskan." Namun karena sebutan itu cukup panjang, nama "Baptis" yang lebih singkat akhirnya dipakai secara luas, seperti yang dicatat dalam terbitan karya William Britten tahun 1654 dan dokumen pengajaran jemaat.

Teori-Teori Asal-Usul Kaum Baptis

Dalam menelusuri asal-usul keberadaan kaum Baptis, para sejarawan mengemukakan beberapa sudut pandang teoretis:

1. Teori Yerusalem–Yordan–Yohanes. Pandangan ini menganggap bahwa gereja Baptis memiliki silsilah organisasi yang tidak terputus sejak zaman Yohanes Pembaptis atau Hari Pentakosta. Meskipun gambaran persekutuan orang percaya sepanjang masa itu benar adanya, pandangan mengenai kelangsungan organisasi yang kaku sulit dibuktikan secara historis dan tidak menjadi syarat mutlak bagi keabsahan gereja.

2. Teori Kekeluargaan Rohani Anabaptis. Teori ini melihat adanya hubungan pemikiran rohani antara kaum Baptis dengan kelompok Anabaptis di Swiss, Jerman, dan Belanda. Walaupun ada kemiripan pandangan mengenai baptisan orang percaya dan pemisahan gereja dari negara, tidak terdapat bukti hubungan organisasi secara langsung di antara keduanya.

3. Teori Keturunan Golongan Separatis Inggris. Pandangan ini menilai bahwa kaum Baptis tumbuh secara wajar dari kelompok Separatis Inggris yang memperjuangkan tata gereja mandiri dan pembaptisan bagi orang percaya. Sudut pandang ini memberikan penjelasan historis yang sangat kuat mengenai akar berdiri gereja-gereja Baptis awal di Inggris.

4. Teori Pengaruh Perjanjian Baru. Teori ini menegaskan bahwa kaum Baptis timbul sebagai hasil langsung dari pembacaan Alkitab. Penerjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris oleh William Tyndale sejak tahun 1526 membuka jalan bagi masyarakat awam untuk membaca firman Tuhan. Pembacaan tersebut melahirkan kesadaran untuk memulihkan pola hidup gereja sesuai teladan Kitab Suci.

Pergumulan di Tengah Gereja Negara

Situasi sosial dan keagamaan di Inggris pada awal tahun 1600-an berada di bawah pengaruh kuat Gereja Inggris (Anglikan) sebagai gereja resmi negara. Raja memegang kekuasaan penuh atas tatanan politik sekaligus kehidupan beragama. Setiap warga diwajibkan untuk tunduk pada aturan ibadah yang ditetapkan oleh kerajaan. Kondisi ini menekan orang-orang yang memiliki keyakinan berbeda.

Sejak Raja Henry VIII memutuskan hubungan dengan Katolik Roma pada tahun 1534 dan mengangkat dirinya sebagai kepala gereja, urusan iman rakyat diatur oleh pemerintah sipil. Pada masa pemerintahan Raja James I, tekanan terhadap kelompok yang tidak setuju makin keras. Tokoh-tokoh pembaru melihat adanya penyimpangan antara praktik keagamaan resmi dan ajaran Perjanjian Baru. Mereka menuntut agar gereja dimurnikan dan dibebaskan dari campur tangan penguasa duniawi.

Kelompok yang memilih keluar dari ikatan gereja negara disebut kelompok Separatis. Mereka berkeyakinan bahwa jemaat yang benar adalah persekutuan orang-orang percaya yang berkumpul secara mandiri di bawah kepemimpinan Kristus. Kerinduan untuk mempertahankan murninya ajaran Alkitab membuat mereka harus berhadapan dengan ancaman denda, penjara, atau hukuman pengasingan.

Perintisan John Smyth dan Thomas Helwys

Di antara para tokoh Separatis, John Smyth memegang peran penting pada masa awal ini. Smyth adalah seorang pengajar lulusan Cambridge yang melayani di Gereja Inggris. Karena khotbah-khotbahnya yang menyuarakan pemurnian ajaran dan menegur kebiasaan buruk di masyarakat, ia diberhentikan dari jabatannya di Lincoln pada tahun 1602.

Smyth kemudian bergabung dengan jemaat non-konformis di Gainsborough, yang didukung oleh Thomas Helwys dan John Murton. Akibat ancaman penganiayaan yang makin berat dari Raja James I, jemaat Gainsborough di bawah pimpinan Smyth dan Helwys memutuskan untuk mengungsi ke Amsterdam, Belanda, pada akhir tahun 1607 guna memperoleh perlindungan hukum dan kebebasan beribadah.

Di Amsterdam, melalui pendalaman kitab suci Perjanjian Baru, Smyth sampai pada kesimpulan bahwa baptisan bayi tidak memiliki dasar Alkitabiah. Pembaptisan seharusnya hanya dilayankan kepada orang yang telah bertobut dan mengaku beriman kepada Yesus Kristus. Pada tahun 1609, Smyth membaptiskan dirinya sendiri dengan penuangan air, lalu membaptiskan Thomas Helwys beserta anggota jemaat lainnya. Peristiwa ini menjadi momen bersejarah pembentukan jemaat Baptis awal.

Pergumulan teologis terus berjalan. Ketika Smyth berniat menggabungkan diri dengan kelompok Mennonite di Belanda, Thomas Helwys bersama sebagian anggota jemaat memilih untuk mempertahankan kebebasaannya sebagai kelompok Baptis Inggris. Helwys berkeyakinan bahwa melarikan diri dari penganiayaan bukanlah jalan keluar yang berkesinambungan bagi kesaksian iman di tanah air mereka.

Pada tahun 1611–1612, Thomas Helwys dan John Murton memimpin rombongan kecil jemaat tersebut kembali ke Inggris. Mereka mendirikan gereja Baptis pertama di tanah Inggris, tepatnya di Spitalfields, sebelah timur kota London. Langkah berani ini diambil di tengah ancaman bahaya yang nyata dari penguasa kerajaan.

Helwys menuliskan pembelaan imannya dalam buku berjudul A Short Declaration of the Mystery of Iniquity (1611/1612). Tulisan ini mencatatkan rintisan pemikiran awal dalam bahasa Inggris mengenai kebebasan agama secara penuh. Helwys mempersembahkan buku tersebut kepada Raja James I sambil mengingatkan bahwa raja hanyalah manusia biasa yang tidak berhak menguasai hati nurani atau keyakinan rohani seseorang di hadapan TUHAN.

Akibat keberaniannya menyuarakan kebenaran tersebut, Thomas Helwys ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara Newgate hingga meninggal dunia sekitar tahun 1616. Pelayanan jemaat kemudian dilanjutkan oleh John Murton. Meskipun menghadapi rintangan hukum yang amat berat, persekutuan jemaat terus bertahan dan mengalami pertumbuhan.

Pengorbanan para perintis awal di abad ke-17 ini menunjukkan teguhnya pegangan mereka pada otoritas Alkitab dan kebebasan hati nurani. Langkah mereka keluar dari naungan gereja negara menegaskan bahwa kesetiaan iman kepada Kristus melampaui segala aturan manusiawi. Seluruh rangkaian sejarah ini menjadi dasar yang mengawali perjalanan pelayanan kaum Baptis di masa-masa selanjutnya [DAS].

Hikmat Memahami sejarah penelusuran iman menolong umat untuk menghargai warisan rohani masa lalu, tetap setia pada kebenaran firman Tuhan, serta bijaksana dalam melanjutkan estafet pelayanan di masa kini.
Ayat Alkitab Sebab itu, umat yang mempunyai banyak saksi, yang mengelilingi, marilah menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan. — Ibrani 12:1
Sumber-sumber Pendalaman:
  • Torbet, Robert G. A History of the Baptists. Judson Press.
  • Vedder, Henry C. A Short History of the Baptists. American Baptist Publication Society.
  • Portal Informasi Sejarah Gereja Baptis Dunia (World Baptist Alliance): www.wbanet.org
  • Arsip Sejarah Dokumen Reformasi Inggris: www.british-history.ac.uk
Promo Buku Baptis
Ragam Pustaka Kebaptisan Koleksi buku mencakup: Sejarah, Kepercayaan, dan Tata Gereja, “Iman Baptis, Dasar dan Prinsipnya”, “Baptis Indonesia Bangga Setia”, “Baptist Confessions: A Collections”, “Pengakuan Iman Baptis di Indonesia”, “Gabungan Baptis Indonesia (GGBI)”, hingga “Kongregasional Keluarga Besar”.
Informasi & Pemesanan:
• Toko Online (Shopee): shopee.co.id/lenterahikmat
• Portal Web: lenterahikmat.das.web.id
• Google Play Book: Lentera Hikmat
• WhatsApp Admin: 089611429590 | Email: lenterahikmat@gmail.com