Berdirinya GGBI (1): Diawali Kebersamaan

BERDIRINYA GGBI (1): DIAWALI KEBERSAMAAN
Ringkasan

Kemandirian umat Baptis di Indonesia berakar dari ikatan kebersamaan yang terajut melalui berbagai konferensi pemuda, kepemimpinan, pendeta, serta beragam kampanye rohani yang mendahului pembentukan wadah nasional.

oleh: Dwi Ariefin

Kemandirian umat Baptis di Indonesia tampak dari perkembangan peranan hingga kebersamaan yang terjadi di tengah-tengah mereka. Upaya bekerjasama diwujudkan dalam beragam bentuk, dimulai dengan mendukung gereja setempat, bekerjasama antargereja sewilayah, hingga kebersamaan secara nasional. Sejak perintisan Baptis di Indonesia, sudah ada usaha-usaha yang menumbuhkan ikatan kebersamaan.

Selama tiga tahun pertama sejak perintis Baptis tiba pada 24 Desember 1951, gereja-gereja di Bandung, Surabaya, Jakarta, dan Semarang masih berkonsentrasi dengan usaha perintisan masing-masing. Sejumlah orang Indonesia turut mengambil peranan penting dalam pelayanan awal perintisan, seperti Samuel Sarendatu, Ais Pormes, J.B. Rembeth, Mia Jacob, Julian Sigar, dan Thio Tjoen An. Organisasi kelompok kaum seperti Baptist Youth Organisation dan Woman's Missionary Society mulai dibentuk sebagai benih tumbuhnya kerjasama antargereja.

Kebersamaan Makin Beragam

Sesudah tahun 1955, sejumlah pertemuan berskala wilayah dan nasional telah diadakan. Bagi maksud meningkatkan kualitas pelayanan di gereja-gereja diadakanlah pertemuan pertemuan pembekalan. Ada pembekalan pelayanan Sekolah Minggu, Kepemimpinan, dan Musik. Pertemuan-pertemuan yang menjangkau kelompok-kelompok kaum dilaksanakan. Telah juga diselenggarakan pertemuan-pertemuan, seperti Persekutuan atau Konferensi Pemuda, Persekutuan Kaum Wanita, serta Persekutuan atau Konferensi Pendeta. Pertemuan atau konferensi tersebut menjadi kesempatan untuk perjumpaan dan kebersamaan umat Baptis Indonesia.

Konferensi Pemuda

Konferensi Pemuda menjadi kesempatan persekutuan dan kebersamaan kaum Muda. Awalnya dimulai dengan pembentukan organisasi kepemudaan di gereja lokal. Kebersamaan berlanjut hingga tingkat wilayah dan nasional. Hubungan dan kerjasama antarwilayah yang mendukung kerjasama senasional telah terlaksana. Dimulai dengan beberapa pertemuan informal dalam bentuk kunjungan-kunjungan para anggota B.Y.O. Kunjungan-kunjungan tersebut menjadi kegiatan yang sangat baik bagi tumbuhnya kebersamaan secara nasional. Perkunjungan tersebut telah mengantar penyelenggaraan konferensi nasional. Konferensi Pemuda tingkat Nasional yang pertama diadakan di STBI Semarang pada 29 November hingga 3 Desember 1954.

Pertemuan tersebut menyepakati nama Persatuan Pemuda-Pemudi Baptis Indonesia. Konferensi pemuda berikutnya dilangsungkan secara berkala di berbagai tempat. Konferensi tahunan pemuda terus berlanjut untuk mempererat persekutuan kaum muda dari berbagai kota. Pada tahun-tahun tersebut, kegiatan pembinaan pemuda semakin terarah dan terorganisasi dengan baik. Semangat kebersamaan kaum muda menjadi salah satu motor penggerak utama dalam rekatnya persaudaraan umat Baptis.

Konferensi Kepemimpinan

Jika Konferensi Pemuda mengundang Kaum Muda, maka Konferensi Kepemimpinan disiapkan bagi jemaat yang melayani atau mengerjakan pelayanan dalam kegiatan-kegiatan di gereja; seperti di Sekolah Minggu, Persatuan Latihan, pemimpin pujian, pengurus organisasi dan pengurus kantor gereja. Konferensi Kepemimpinan berselaras dengan program Persatuan Latihan yang juga giat dilaksanakan oleh gereja-gereja Baptis. Persatuan Latihan dan Konferensi Kepemimpinan menekankan pada pembekalan bagi peserta untuk menambah kemampuan dalam melaksanakan tugas pelayanan dan kepemimpinan.

Konferensi Kepemimpinan pertama diadakan di STBI Semarang. Dengan tema Diselamatkan Untuk Melayani, konferensi tersebut terlaksana pada tanggal 8 hingga 11 April 1957. Ada sepuluh delegasi yang hadir mewakili masing-masing wilayah pelayanan Baptis, ditambah para mahasiswa Seminari. Kesempatan diskusi telah menolong dan mendatangkan manfaat berharga bagi peserta. Konferensi-konferensi kepemimpinan berikutnya terus diselenggarakan untuk memperlengkapi para pelayan Tuhan di berbagai daerah.

Konferensi Pendeta

Konferensi Tahunan Pendeta biasanya diadakan pada bulan Juni bagi para pendeta dan gembala sidang. Khusus pada tahun 1961, tidak diadakan pada bulan Juni, melainkan bulan Oktober. Konferensi yang diadakan di Cipayung tersebut dihadiri 25 orang. Termasuk sebagai penghadir konferensi adalah para mahasiswa tahun kedua, ketiga dan keempat dari Seminari. Pertemuan juga menyepakati pembentukan pengurus. Konferensi tahunan pendeta untuk tahun 1962 diadakan di Bandung pada bulan Oktober. Peserta lebih banyak dari para pelayan sepenuh waktu, dan beberapa dari para pekerja paruh waktu.

Konferensi Pendeta biasanya untuk maksud pembinaan para pemimpin gereja penuh waktu. Namun semangat para pendeta nasional telah memengaruhi arah dan tujuan konferensi. Para pendeta nasional berharap tindak lanjut hasil konferensi semestinya lebih bermanfaat langsung bagi kepentingan dan masa depan pendeta-pendeta Baptis Indonesia. Di sela-sela Konferensi atau Pekan Persekutuan Pendeta-Pendeta tahun 1966, maksud dan semangat tersebut dimunculkan.

Kampanye Sekolah Minggu, GEHIBA dan KABARIA-70

Terselenggara tiga kegiatan besar pada periode tahun 1966 hingga menjelang berdirinya gabungan. Kegiatan tersebut adalah Kampanye Sekolah Minggu, GEHIBA dan KABARIA-70. Ketiganya merupakan kegiatan yang agak berbeda dengan pertemuan-pertemuan yang diadakan sebelumnya. Kegiatan-kegiatan tersebut bukan hanya melibatkan umat dan gereja Baptis di Indonesia, melainkan hingga se-Asia. Ketiganya juga menekankan kepada pembekalan dan pelatihan untuk pengabaran Injil, bukan hanya pembekalan pelayanan saja.

Kampanye Sekolah Minggu se-Asia diadakan pada tahun 1966. Indonesia berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Gereja-gereja Baptis Indonesia dan missi bekerja bersama dalam mengoordinasi kegiatan ini, termasuk menyambut beberapa tamu dari luar negeri. Sejumlah pakar Sekolah Minggu dari luar negeri memberi pelatihan di sejumlah wilayah bagi para pendeta dan petugas Sekolah Minggu. Kampanye Sekolah Minggu Asia dilanjutkan dengan kebangunan rohani serentak melalui GEHIBA yaitu singkatan dari Gerakan Hidup Baru. GEHIBA yang dilaksanakan pada tahun 1967 telah menghasilkan sejumlah dukungan bagi gereja-gereja Baptis Indonesia.

Program KABARIA-70 singkatan dari Kampanye Pekabaran Injil se-Asia tahun 1970. Program ini juga mendukung usaha pelatihan dan kegiatan pengabaran Injil. Berbagai kegiatan skala besar tersebut semakin mempererat jalinan kebersamaan di antara jemaat. Pengalaman berharga dalam melayani bersama menumbuhkan keyakinan kuat bahwa umat Baptis memerlukan wadah persekutuan yang terorganisasi secara nasional.

📖 Pratinjau Bagian Buku
Cover Buku GGBI

Pratinjau materi Diawali Kebersamaan:

Promo Buku Baptis
Ragam Pustaka Kebaptisan Koleksi buku mencakup: Sejarah, Kepercayaan, dan Tata Gereja, “Iman Baptis, Dasar dan Prinsipnya”, “Baptis Indonesia Bangga Setia”, “Baptist Confessions: A Collections”, “Pengakuan Iman Baptis di Indonesia”, “Gabungan Baptis Indonesia (GGBI)”, hingga “Kongregasional Keluarga Besar”.
Informasi & Pemesanan:
• Toko Online (Shopee): shopee.co.id/lenterahikmat
• Portal Web: lenterahikmat.das.web.id
• Google Play Book: Lentera Hikmat
• WhatsApp Admin: 089611429590 | Email: lenterahikmat@gmail.com