Berdirinya GGBI: Menuju Perubahan, Deklarasi, dan Perkembangan Awal (Ringkas)
Perjalanan berdirinya Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) melalui proses panjang dari kerja sama wilayah, pembentukan Badan Kerjasama (BKS), dinamika hubungan dengan misi, hingga deklarasi resmi pada Agustus 1971 dan Kongres I tahun 1973.
Menuju Perubahan dan Kerja Sama Wilayah
Sejak tahun 1961, kerja sama antargereja Baptis semakin nyata di berbagai daerah seperti Kediri, Surabaya, Bandung, Jakarta, Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Di Kediri, program bersama seperti kebaktian kebangunan rohani dan klinik kepemimpinan mempererat kebersamaan. Langkah serupa juga hidup di wilayah Jawa Barat dan Jakarta Raya melalui pembentukan wadah regional pada Maret 1964.
Dalam lingkup nasional, Missi Baptis Indonesia (MBI) menyelenggarakan Konferensi Strategi Misi di Semarang pada November 1967. Berdasarkan survei pertumbuhan gereja yang dipimpin oleh Ebbie C. Smith, terungkap adanya ketergantungan yang tinggi kepada pihak misi serta struktur kerja sama yang masih perlu dibenahi. Temuan ini menjadi dasar bagi langkah perubahan strategi pelayanan.
Pembentukan Badan Kerjasama (BKS)
Musyawarah Kaum Baptis pada Mei 1968 di Seminari Baptis Semarang mempertemukan sekitar dua ratus utusan dari unsur misi, pendeta, dan perwakilan gereja. Sebagian peserta mengusulkan konvensi nasional, sementara yang lain merasa belum waktunya. Sebagai jalan tengah, disepakati pembentukan Badan Kerjasama Kaum Baptis (BKS) yang melibatkan unsur pemimpin nasional dan perwakilan misi.
Meskipun menghadapi kendala dana dan koordinasi, BKS berhasil mencatat pencapaian penting, seperti penyelesaian konflik gereja di Palembang dan pengangkatan utusan Injil nasional pertama. Namun, di sisi lain, hubungan antara pihak misi dan pemimpin nasional mengalami dinamika tersendiri menjelang tahun 1971.
Pertemuan Sukabumi dan Keputusan Tretes
Untuk memfokuskan pembahasan pada kemandirian nasional, para pemimpin Baptis mengadakan pertemuan khusus di Sukabumi pada 1 Juni 1971 tanpa mengundang pihak misi. Pertemuan ini merumuskan pentingnya wadah mandiri bagi umat Baptis di Indonesia.
Sementara itu, MBI dalam rapat tahunan di Tretes pada Juli 1971 mengumumkan kebijakan baru (*New Pattern of Work*) yang mencakup penghentian subsidi secara bertahap dan penutupan Seminari Theologia Baptis Indonesia. Keputusan mendadak ini memicu reaksi keras dari kalangan pemimpin dan umat Baptis Indonesia.
Deklarasi GGBI dan Pengurus Perdana
Musyawarah Kaum Baptis pada 9–13 Agustus 1971 di Semarang diwarnai ketegangan akibat Keputusan Tretes. Namun, melalui doa bersama dan kebersamaan yang dipimpin oleh Pdt. Ishak Iskandar, suasana berubah menjadi penuh keharuan dan pengampunan.
Para utusan akhirnya sepakat menolak penutupan seminari dan secara bulat mendeklarasikan berdirinya **Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI)** pada 12 Agustus 1971 di bukit Simongan, Semarang. Musyawarah menetapkan Badan Pengurus Harian perdana dengan Pdt. Eddy Wiriadinata sebagai Ketua Umum, Sdr. Soedarno sebagai Sekretaris Umum, dan Sdr. Paulus Setiawan sebagai Bendahara.
Perkembangan Awal dan Kongres I GGBI
Masa awal berdirinya GGBI diwarnai penataan organisasi yang sederhana dan penyusunan Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Departemen Pengabaran Injil langsung dibentuk di bawah pimpinan Pdt. Mulus Budianto untuk memprioritaskan pekabaran Injil.
Puncak konsolidasi organisasi diwujudkan melalui penyelenggaraan **Kongres I GGBI** pada 2–6 April 1973 di Seminari Baptis Semarang yang dihadiri 90 utusan dari 36 gereja anggota. Kongres ini mengesahkan AD/ART, menetapkan Azas Keluarga Besar, serta memilih kepengurusan baru di bawah pimpinan Pdt. Ishak Iskandar [DAS].
Pratinjau materi Berdirinya GGBI:
• Toko Online (Shopee): shopee.co.id/lenterahikmat
• Portal Web: lenterahikmat.das.web.id
• Google Play Book: Lentera Hikmat
• WhatsApp Admin: 089611429590 | Email: lenterahikmat@gmail.com